Sabtu, 19 November 2016

M

M: Belanja online aman dan nyaman dari M

Rabu, 21 April 2010

Hidup Kaya

Anda ingin hidup seperti orang kaya? Hasilkan lah dulu sesuatu yang bisa membuat orang lain hidup kaya. Maka anda akan bisa hidup seperti orang kaya.

Banyak orang ingin kaya. Segala macam cara ia lakukan. Mulai yang legal sampai yang ilegal.

Sebenarnya bukan status kaya yang ia inginkan. Tapi ia ingin agar kekayaan nya itu bisa membeli gaya hidup mewah. Ia ingin bisa menikmati rumah bagus. Mobil mewah.

Saya bukan anti hidup mewah. Kalau memang selera anda adalah selera mewah, by all means. Cari itu. Supaya anda bisa happy. Apalagi kalau anda punya uang untuk menopangnya.

Yang repot itu kalau anda tidak kaya tapi anda ingin hidup mewah.

Satu cara yang saya bisa usulkan adalah anda harus kreatif. Anda harus menghasilkan sesuatu yang orang banyak butuhkan. Sesuatu yang membuat kehidupan orang lain lebih baik. Dan kualitas nya harus mewah juga, setara dengan kemewahan yang anda ingin dapatkan itu.

Guys, repot sekali kalau anda ingin menikmati kemewahan ciptaan orang lain tapi anda sendiri tidak setara dengan orang lain itu. Maksud saya anda tidak menghasilkan kemewahan yang selevel, yang orang lain ingin dapatkan.

Misalnya anda ingin punya mobil seharga satu miliar. Maka anda harus menghasilkan karya istimewa sehingga orang banyak mau membayar anda untuk karya itu seharga satu miliar. Dengan uang itu, maka anda bisa mendapatkan mobil impian anda itu.

Itulah sebabnya orang-orang yang menekuni karya masterpieces mampu membeli kemewahan yang ia inginkan. Mulai dari seniman, pelawak, olahragawan, politisi, ilmuwan, sampai pada ulama. Apalagi pedagang. Kalau mereka tekun mengembangkan diri kemudian menyajikan karya terbaik mereka, dunia me-reward mereka dengan kemampuan untuk memperoleh hal terbaik dari orang lain, seperti kemewahan itu.

Jadi hidup kaya itu harus dimulai dengan kita sendiri, berpikir dan bertindak memberikan kemewahan pada dunia dengan harga terjangkau.

Memperbaiki Kesalahan

Manusia membuat kesalahan. Tapi ada kesalahan yang terlalu besar, sehingga kita tidak bisa lagi mengampuni diri sendiri. Bagaimana mengatasinya?

Kita merasa sangat bersalah. Peristiwa-peristiwa yang membekas begitu kuat dalam jiwa kita. Dan bisa menjurus pada trauma.

Semua ini menggoyahkan konsep kita tentang dunia dan kemanusiaan. Tentang jati diri dan relasi. Sesuatu yang mengambrukkan kepercayaan kita pada diri kita atau pada orang lain.

Ada nasehat yang baik: jangan pernah men-judge orang lain. Jangan pernah menghakimi. Kita tidak pernah tahu trauma apa yang pernah ia alami, sehingga ia berperilaku tidak sesuai harapan kita.

Saya sering mengalami di-judge orang. Dan saya merasa tidak berdaya. Pertama, karena saya memang tidak sempurna, dan orang menunjuk ke titik lemah itu. Kedua, tidak selalu situasi itu seperti yang mereka bayangkan, tapi kita terlalu kecewa untuk bersusah-susah menjelaskannya. Saya merasa tidak berdaya karena tidak bisa deal dengan pikiran orang. Lebih parah lagi kalau judgment itu datang dari orang yang kita hormati, yang kita care, apalagi yang kita cintai. Kita terpaksa bersembunyi meringkuk menahan sakit.

Oleh sebab itu nasehat tadi itu betul sekali: kita perlu menahan diri untuk tidak men-judge orang.

Tapi lebih penting lagi, saya ingin memperluas nasehat itu: Kita harus berhenti menghakimi diri kita. Kita harus berhenti tidak mempercayai lagi diri kita. Start to believe again.

Selama kita masih diperkenankan hidup, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Selalu ada waktu untuk berpegang pada ideal kita. Dan kita berjuang keras melawan pikiran-pikiran serta suara-suara yang berusaha mengecilkan arti diri kita, arti hidup kita.

Sepahit apapun, pengalaman itu harus kita jadikan berkat. Kita ubah dan jadikan itu suatu kebaikan.

Who am I to pass judgment? God waits a lifetime before He passes judgment…